Hakikat Kegembiraan sebagai Amalan Hati
Hakikat Kegembiraan sebagai Amalan Hati merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 11 Sya’ban 1447 H / 30 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Hakikat Kegembiraan sebagai Amalan Hati
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk bergembira atas karunia dan rahmat-Nya melalui firman-Nya:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’.” (QS. Yunus[10]: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa karunia dan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla jauh lebih mulia daripada harta kekayaan, kedudukan, keluarga, maupun seluruh isi dunia yang dikumpulkan manusia. Kegembiraan sejati hanya akan bersemi di dalam hati yang dipenuhi iman, cinta, serta pengagungan terhadap syariat Allah. Hati yang mencintai Al-Qur’an dan subur dengan dzikir akan senantiasa bersukacita atas segala karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika seorang hamba diperintahkan bergembira atas nikmat yang dicurahkan, tentu kegembiraan terhadap Dzat yang memberikan nikmat tersebut jauh lebih utama. Mengenal Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Sang Pemberi nikmat merupakan puncak dari segala kegembiraan. Menurut Imam Ibnu Qayyim, hakikat kegembiraan adalah kelezatan di dalam hati yang muncul karena seseorang berhasil mendapatkan apa yang dicintai dan diinginkannya.
Al-Qur’an sebagai Karunia dan Rahmat Terbesar
Sebelum memerintahkan hamba-Nya untuk bergembira dengan karunia dan rahmat Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan adanya karunia agung yang tiada tara dalam ayat sebelumnya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]: 57)
Al-Qur’an merupakan nasihat, petunjuk, serta obat (syifa) bagi berbagai penyakit hati dan jiwa. Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan fungsi Al-Qur’an dalam ayat lain:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Al-Isra`[17]: 82)
Inilah karunia dan rahmat yang sangat mulia. Seseorang yang memiliki Al-Qur’an sebagai petunjuk hidupnya telah mendapatkan nikmat yang jauh lebih baik daripada perhiasan dunia. Oleh karena itu, kegembiraan atas hidayah dan ilmu agama harus menempati posisi tertinggi dalam hati setiap muslim.
Seorang muslim seyogianya bergembira atas nikmat yang bersifat kekal abadi, yang membawa kebahagiaan di dunia dan berlanjut hingga ke akhirat. Nikmat duniawi berupa harta benda, kekayaan, pangkat, dan jabatan merupakan kenikmatan sementara yang tidak kekal. Sering kali, kepemilikan nikmat duniawi disertai dengan kebimbangan, keraguan, serta ketakutan akan kehilangan atau direbut oleh orang lain.
Sebaliknya, nikmat iman, rahmat, karunia Allah ‘Azza wa Jalla, Al-Qur’an, dan petunjuk adalah hal-hal yang akan terus bertahan bersama seseorang. Kenikmatan tersebut jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menegaskan bahwa nikmat Al-Qur’an dan petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah alasan utama mengapa seseorang harus bergembira. Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’.” (QS. Yunus[10]: 58)
Karunia tersebut lebih baik daripada segala perhiasan dunia yang dikumpulkan oleh manusia. Kenikmatan dunia yang dikumpulkan oleh pecinta dunia pada hakikatnya tidak sepantasnya membuat seseorang terlena atau terpesona secara berlebihan. Kenikmatan duniawi selalu dihadapkan pada ancaman kerusakan, kehilangan, dan kepastian akan berakhir.
Dunia diibaratkan seperti seseorang yang bermimpi menikmati keindahan istana serta makanan lezat, namun saat terbangun, ia tidak mendapatkan apa-apa. Barang siapa yang terlena dengan dunia hingga melalaikan nikmat abadi berupa ketakwaan, kesalehan, dan sunnah, sesungguhnya ia telah tertipu oleh fatamorgana yang sesaat.
Kedudukan Tertinggi Orang-Orang yang Mengenal Allah
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa kegembiraan dengan Allah, Rasul-Nya, iman, sunnah, ilmu, dan Al-Qur’an merupakan tingkat tertinggi dari kedudukan orang-orang yang mengenal Allah. Mereka adalah orang yang mengenal keagungan serta kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga hatinya merasa sangat dekat dengan-Nya. Jiwa mereka senantiasa diliputi kerinduan untuk bersua dengan Sang Pencipta.
Seorang muslim tidak perlu bersedih jika nikmat duniawi diambil atau hilang darinya, karena dunia memang tidak kekal abadi. Sangat disayangkan jika ada seseorang yang meratap, menangis, bahkan berputus asa hingga mengakhiri hidupnya hanya karena kehilangan materi duniawi atau gagal meraih jabatan. Hal tersebut terjadi karena orang tersebut lupa bahwa nikmat iman dan Al-Qur’an jauh lebih berharga daripada segala sesuatu yang hilang tersebut.
Ketidakstabilan psikologis dan kejiwaan saat kehilangan nikmat dunia menunjukkan bahwa cinta dunia (hubbud dunya) telah menyelimuti jiwa seseorang. Hal ini merupakan tanda bahwa seseorang belum mengenal hakikat iman, jarang berinteraksi dengan Al-Qur’an, dan tidak menyadari keagungan nikmat sunnah. Sebaliknya, orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah akan tetap tenang karena jiwa mereka lebih merindukan pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla daripada sekadar mempertahankan kesenangan duniawi yang fana.
Kehidupan akhirat merupakan orientasi hidup utama bagi orang-orang yang mengenal Allah (arifin billah). Dunia memang berada di tangan mereka, namun tidak bertahta di dalam hati dan jiwa. Mereka rela mengorbankan dunia demi kepentingan akhirat, bukan sebaliknya. Bagi mereka, kegembiraan tertinggi adalah ketika hati terpaut pada Allah ‘Azza wa Jalla, Rasul-Nya, iman, sunnah, ilmu, dan Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai keadaan orang beriman ketika wahyu diturunkan:
وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَٰذِهِ إِيمَانًا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah[9]: 124)
Ayat ini merupakan dalil bahwa keimanan dapat bertambah dengan membaca, mendengar, dan mentadaburi Al-Qur’an. Orang-orang beriman akan merasakan yastabsyirun atau kegembiraan yang luar biasa saat berinteraksi dengan kalam-Nya. Begitu pula dalam ayat lain, Allah menegaskan kebahagiaan para pemilik kitab atas wahyu yang diturunkan:
وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ
“Dan orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an).” (QS. Ar-Ra’d[13]: 36)
Bagi para sahabat Muhajirin dan Anshar, setiap ayat yang turun adalah nikmat terbesar setelah iman dan Islam. Al-Qur’an adalah pedoman, kompas, dan penawar (syifa) dalam perjalanan hidup. Sebaliknya, bagi orang-orang yang ingkar dan fasik, keberadaan Al-Qur’an tidak menambah kebaikan melainkan justru menyingkap penyimpangan mereka.
Syukur Atas Karunia Iman dan Sunnah
Seseorang yang dimuliakan Allah dengan keimanan, semangat mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, perhatian terhadap Al-Qur’an, dan ketekunan menuntut ilmu, sesungguhnya telah mendapatkan nikmat yang tiada taranya. Masih banyak orang yang belum memahami konsep keimanan yang benar, belum tumbuh rasa cinta kepada sunnah, bahkan jauh dari ilmu agama dan Al-Qur’an. Maka, seorang hamba yang mendapatkan kemuliaan ini harus menjaganya dan menyadari bahwa hal tersebut adalah karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa kegembiraan terhadap ilmu, iman, dan sunnah merupakan indikator pengagungan dan kecintaan seseorang terhadap perkara tersebut.
Kegembiraan seseorang saat mendapatkan sesuatu berbanding lurus dengan kadar kecintaan dan keinginan untuk memperolehnya. Jika seseorang tidak memiliki keinginan terhadap sesuatu, ia tidak akan merasa gembira saat mendapatkannya dan tidak akan bersedih saat kehilangannya. Oleh karena itu, kegembiraan selalu mengikuti kecintaan.
Seorang mukmin yang mencintai ilmu, iman, dan sunnah akan terus berusaha menggali dan mencarinya. Begitu ia mendapatkannya, kegembiraannya tidak dapat ditukar dengan dunia dan seisinya. Untuk meningkatkan kegembiraan tersebut, setiap muslim harus terus memupuk rasa cintanya kepada Al-Qur’an dan sunnah, karena semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula kebahagiaan yang dirasakannya saat bersama karunia tersebut.
Kadar cinta seseorang terhadap Al-Qur’an, iman, dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perlu dipertanyakan melalui introspeksi diri. Seseorang harus menyadari apakah ia telah bergembira dengan nikmat iman, Islam, sunnah, dan ilmu, ataukah ia justru masih bersedih saat melihat orang lain mendapatkan nikmat duniawi seperti kekayaan dan jabatan. Penilaian kemuliaan yang hanya menggunakan kacamata dunia adalah sebuah kekeliruan.
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa kegembiraan adalah sifat kesempurnaan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat kegembiraan yang hakikatnya tidak sama dengan kegembiraan makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat bergembira, terutama saat seorang hamba kembali bertobat kepada-Nya. Karena kesempurnaan yang dimiliki makhluk bersumber dari-Nya, maka Allah ‘Azza wa Jalla lebih berhak memiliki sifat kesempurnaan tersebut.
Seseorang tidak boleh merasa pesimis saat terjatuh ke dalam kesalahan atau maksiat. Ia harus bergegas tobat dengan hati yang tulus dan penuh penyesalan. Betapa besarnya kegembiraan Allah ‘Azza wa Jalla digambarkan dalam sebuah hadits tentang seorang lelaki yang kehilangan untanya di padang pasir yang tandus. Unta tersebut membawa seluruh persediaan makanan dan minumannya. Setelah berputus asa dan tertidur di bawah pohon, ia terbangun dan mendapati untanya telah kembali di sampingnya. Saking gembiranya, ia salah berucap:
اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ
“Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu.” (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa orang tersebut salah berucap karena kegembiraan yang sangat luar biasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih gembira daripada orang tersebut ketika mendapati hamba-Nya bertobat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur[24]: 31)
Ilmu sebagai Penawar Kesedihan dan Kebodohan
Kegembiraan atas nikmat iman dan ilmu akan menyelamatkan seseorang dari berbagai kesedihan yang disebabkan oleh kemaksiatan, kelalaian, dan kebodohan. Menurut Imam Ibnu Qayyim, kebodohan terbagi menjadi dua, yaitu kebodohan dalam pengetahuan seseorang terhadap Allah, serta kebodohan dalam amalan dan kesesatan.
Kebodohan tersebut memberikan efek negatif pada hati, seperti kegersangan jiwa, kecemasan, ketakutan, dan kesedihan. Namun, saat seseorang menuntut ilmu dan beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan kegalauan serta kekhawatiran tersebut dari hatinya. Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati sehingga hati orang yang berilmu senantiasa hidup. Sebaliknya, hati yang diselimuti kebodohan akan redup atau bahkan tertutup cahayanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perumpamaan ini:
أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan dan tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An’am[6]: 122)
Dalam ayat tersebut, Allah menamakan orang yang tidak berilmu sebagai orang yang mati, yaitu mati hatinya. Allah kemudian menghidupkannya dengan cahaya ilmu agar ia dapat berjalan di atas shirathal mustaqim, selamat dari penyimpangan syahwat dan syubhat. Seseorang yang berada dalam kegelapan tanpa ilmu akan terus terjebak dalam kesengsaraan hidup.
Menyatukan Hati yang Tercerai-berai
Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa hati sering kali menghadapi kondisi yang berubah-ubah. Hati yang tercerai-berai akan merasa gelisah, sedangkan hati yang menyatu dalam iman dan tauhid akan merasa tenang. Kesatuan hati hanya dapat dicapai dengan menghadap kepada Allah. Seseorang yang terlalu condong pada dunia, jabatan, dan kedudukan akan mendapati urusannya berantakan dan sulit berkonsentrasi.
Kekhawatiran dan kegalauan di dalam hati tidak dapat dihilangkan kecuali dengan merasakan kenikmatan menyendiri bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Waktu terbaik untuk berkhalwat adalah pada sepertiga malam terakhir. Segala kesedihan dan kegelisahan akan sirna saat seorang hamba mengadu dan mencurahkan isi hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Mengobati Kesedihan dan Kebimbangan
Kesedihan dapat dihilangkan dengan kegembiraan mengenal Allah dan jujur dalam bermuamalah kepada-Nya. Hal ini mencakup dua aspek utama:
- Makrifat: Mengenal keagungan, kemuliaan, serta nama dan sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla.
- Shidqul Muamalah: Jujur dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Kebimbangan hanya dapat dihilangkan dengan fokus sepenuhnya kepada Allah serta berlari dari Allah menuju Allah. Maknanya adalah lari dari segala hal yang mendatangkan kemurkaan dan azab-Nya menuju segala hal yang menyelamatkan, seperti taubat dan berserah diri. Selain itu, api penyesalan dan kerugian hanya dapat dipadamkan dengan ridha terhadap perintah, larangan, serta keputusan Allah, yang diiringi dengan kesabaran.
Kebutuhan Hati yang Hanya Terpenuhi oleh Allah
Terdapat kebutuhan dan hajat besar di dalam hati yang tidak dapat ditutupi oleh apapun kecuali dengan cinta kepada Allah, kembali kepada-Nya, senantiasa berdzikir, serta keikhlasan yang jujur. Seandainya jiwa ini diberikan seluruh dunia beserta segala kemewahannya, kekosongan di dalam hati tersebut tidak akan pernah terpenuhi.
Hati orang yang bergembira adalah hati yang terpaut pada Allah, Al-Qur’an, ilmu, sunnah, dan amal saleh. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menanamkan kegembiraan di dalam diri atas segala karunia dan nikmat tersebut, sebagaimana firman-Nya:
فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“…’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’.” (QS. Yunus[10]: 58)
Kegembiraan atas karunia dan rahmat Allah jauh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Download MP3 Kajian Hakikat Kegembiraan sebagai Amalan Hati
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56040-hakikat-kegembiraan-sebagai-amalan-hati/